Home / Opini

Rabu, 12 November 2025 - 09:07 WIB

Belajar di Dunia Digital Guru Harus Lebih Cerdas

Oleh: MUKSINUDDIN
Mahasiswa PJKR FKIP USK

Dunia pendidikan sedang mengalami transformasi besar. Perubahan itu tidak hanya disebabkan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh pergeseran budaya belajar yang melanda seluruh generasi. Kini, ruang kelas tidak lagi terbatas pada tembok sekolah. Proses belajar bisa terjadi di mana saja—melalui gawai, platform digital, atau bahkan media sosial.

Sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), saya menyaksikan perubahan ini dari ruang kuliah yang turut beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kami belajar menggunakan learning management system, membuat konten pembelajaran interaktif, dan memahami cara berpikir generasi yang tumbuh di tengah dunia digital. Namun, di balik segala kemajuan ini, muncul pertanyaan penting: apakah guru masa depan siap menghadapi realitas baru ini?

Tidak bisa dipungkiri, teknologi digital telah merevolusi cara guru dan siswa berinteraksi. Sejak pandemi COVID-19, dunia pendidikan dipaksa beralih ke pembelajaran daring. Guru dan siswa belajar menggunakan platform seperti Zoom, Google Classroom, dan Moodle. Setelah masa itu berlalu, banyak sekolah yang tetap memanfaatkan model blended learning karena dinilai lebih fleksibel dan efisien.

Namun, teknologi bukan tanpa tantangan. Di balik kemudahan akses informasi, muncul risiko baru seperti distraksi digital, penyebaran hoaks, dan berkurangnya interaksi sosial. Murid kini lebih cepat memperoleh informasi dibanding generasi sebelumnya, tetapi belum tentu lebih bijak dalam memahaminya. Di sinilah peran guru menjadi semakin penting—bukan sekadar penyampai pengetahuan, melainkan pembimbing dalam menavigasi lautan informasi yang tak terbatas.

Guru di era digital tidak cukup hanya “melek teknologi”. Ia harus lebih cerdas—cerdas dalam berpikir, bertindak, dan menggunakan teknologi secara bijak. Kecerdasan guru di era digital bukan diukur dari seberapa sering ia menggunakan aplikasi pembelajaran, tetapi dari seberapa efektif ia menjadikan teknologi sebagai alat untuk memperkuat nilai kemanusiaan dalam pendidikan.

BACA JUGA  Guru dan Era Digital : Saat Tantangan Berubah Menjadi Peluang

Kecerdasan itu mencakup tiga hal. Pertama, kecerdasan literasi digital, yakni kemampuan untuk memahami, menyeleksi, dan menggunakan informasi dengan kritis. Kedua, kecerdasan pedagogis digital, yaitu kemampuan mengintegrasikan teknologi dalam strategi mengajar agar pembelajaran tetap menarik dan bermakna. Ketiga, kecerdasan emosional, yang membantu guru menjaga komunikasi yang hangat dan empatik di tengah interaksi daring yang cenderung kaku.

Guru yang cerdas bukan yang tergantikan oleh teknologi, melainkan yang mampu menjadikan teknologi sebagai mitra. Artificial intelligence (AI) mungkin bisa menjawab pertanyaan murid, tetapi hanya guru yang bisa memahami mengapa murid itu bertanya. Teknologi bisa memberi data, tetapi hanya guru yang bisa memberi makna.

Meski digitalisasi pendidikan semakin pesat, kita tidak boleh menutup mata terhadap ketimpangan yang masih ada. Tidak semua sekolah memiliki akses internet yang stabil, tidak semua guru memiliki kemampuan teknologi yang sama, dan tidak semua murid memiliki perangkat yang memadai.

Di daerah terpencil, masih banyak guru yang harus berjuang mengajar tanpa dukungan fasilitas digital. Bahkan di perkotaan sekalipun, masih banyak guru yang merasa gagap menghadapi perubahan karena minim pelatihan dan pendampingan. Ketimpangan ini berpotensi menciptakan jurang baru dalam dunia pendidikan—antara mereka yang siap dengan dunia digital dan yang tertinggal karenanya.

Pemerintah bersama lembaga pendidikan perlu memperkuat program literasi digital bagi guru secara berkelanjutan. Pelatihan tidak boleh berhenti pada tahap penggunaan perangkat, tetapi harus sampai pada pemahaman pedagogi digital dan etika bermedia.

Sebagai mahasiswa FKIP, kami menyadari bahwa peran kami di masa depan akan sangat berbeda dengan guru masa lalu. Kami tidak hanya dituntut untuk menguasai teori pendidikan, tetapi juga harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan sosial.

BACA JUGA  Guru Di Era Digital:Bukan Sekedar Pengajar Tapi Pemandu Literasi Teknologi

Di kampus, kami belajar membuat bahan ajar digital, mengembangkan media interaktif, dan memahami bagaimana karakteristik murid digital native yang terbiasa dengan kecepatan dan visualisasi. Namun, kami juga diingatkan bahwa teknologi tidak boleh menghilangkan sentuhan kemanusiaan dalam pendidikan. Guru harus tetap menjadi figur yang menumbuhkan nilai, karakter, dan empati.

Guru yang hebat di era digital bukan yang paling modern secara teknologis, melainkan yang paling manusiawi dalam mengajar. Ia mampu menjembatani teknologi dengan nilai-nilai moral dan sosial, sehingga siswa tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat.

Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas di era digital, perlu sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Kampus keguruan harus memperbarui kurikulum agar relevan dengan kebutuhan zaman. Pemerintah perlu memastikan infrastruktur digital yang merata. Sementara itu, guru dan calon guru harus terus belajar dan terbuka terhadap perubahan.

Menjadi guru di era digital adalah perjalanan tanpa akhir. Dunia akan terus berubah, dan guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Jika murid semakin pintar karena teknologi, maka guru harus lebih cerdas—tidak hanya dalam hal digital, tetapi juga dalam memahami manusia.

Digitalisasi memang mengubah banyak hal, tetapi satu hal tetap pasti: pendidikan selalu tentang manusia. Teknologi hanyalah alat, sementara guru adalah jiwa dari proses belajar itu sendiri.

Belajar di dunia digital menuntut guru untuk beradaptasi, berpikir kritis, dan mengajar dengan hati. Karena pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi, inspirasi tetap lahir dari guru yang cerdas, bijak, dan penuh kasih.

Share :

Baca Juga

Opini

Guru di Tengah Badai Digital: Menjawab Tantangan Pembelajaran Berbasis Teknologi

Opini

Peran Guru di Indonesia dalam Menghadapi Perkembangan Teknologi

Opini

Guru dan Era Digital : Saat Tantangan Berubah Menjadi Peluang

Opini

Guru Di Era Digital:Bukan Sekedar Pengajar Tapi Pemandu Literasi Teknologi

Opini

Guru di Era Digital: “Menjadi Kompas di Tengah Lautan Teknologi”

Opini

“Guru di Era Digital: Antara Tantangan dan Transformasi Menuju Pendidikan Bermakna”

Opini

Naturalisasi Bukan Jalan Tol, Saatnya Indonesia Serius dengan Sport Science

Opini

Atlet Petanque USK Jalani Latihan Rutin di Bulan Ramadhan