OLEH : SABBRI
MAHASISWA PJKR FKIP USK
Perkembangan teknologi di era modern saat ini telah membawa perubahan besar dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali di bidang pendidikan. Dunia pendidikan kini dituntut untuk mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi agar proses belajar mengajar dapat berjalan efektif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Dalam konteks ini, guru memegang peranan yang sangat penting. Guru bukan hanya sebagai pengajar yang menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga sebagai fasilitator, inovator, dan motivator yang membantu peserta didik memanfaatkan teknologi secara bijak dan produktif. Oleh karena itu, peran guru di Indonesia dalam menghadapi perkembangan teknologi menjadi sangat krusial untuk menentukan kualitas generasi penerus bangsa.
Di Indonesia, transformasi pendidikan berbasis teknologi mulai terasa secara nyata sejak pandemi COVID-19 melanda. Ketika pembelajaran tatap muka tidak memungkinkan, guru diharuskan beralih ke sistem pembelajaran daring dengan memanfaatkan berbagai platform digital seperti Google Classroom, Zoom, dan aplikasi belajar lainnya. Masa itu menjadi titik awal perubahan besar dalam dunia pendidikan kita. Meskipun pada awalnya banyak guru yang merasa kesulitan beradaptasi, lambat laun mereka belajar untuk menggunakan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa teknologi bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan jika digunakan dengan tepat.
Peran guru dalam konteks teknologi tidak berhenti hanya pada kemampuan menggunakan perangkat digital. Guru juga harus mampu menanamkan nilai-nilai moral dan etika dalam penggunaan teknologi kepada peserta didik. Di era digital, informasi dapat diakses dengan mudah, namun tidak semua informasi bersifat positif atau bermanfaat. Di sinilah guru berperan penting dalam membimbing siswa agar mampu memilah dan memilih informasi yang benar, serta menggunakannya untuk hal-hal yang produktif. Guru menjadi penjaga moralitas di tengah derasnya arus informasi yang dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda.
Selain itu, guru juga memiliki tanggung jawab untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensinya dalam bidang teknologi. Pemerintah telah memberikan berbagai program pelatihan digitalisasi pendidikan, namun upaya ini perlu diimbangi dengan kesadaran dari para guru itu sendiri untuk terus beradaptasi. Guru yang mampu menguasai teknologi akan lebih mudah menciptakan suasana belajar yang menarik dan interaktif. Misalnya, dengan menggunakan media pembelajaran berbasis video, animasi, atau simulasi digital yang membuat siswa lebih mudah memahami materi. Penggunaan aplikasi seperti Canva, atau Quizz dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar, sekaligus mengurangi kejenuhan dalam pembelajaran konvensional.
Namun demikian, masih banyak tantangan yang dihadapi oleh guru di Indonesia dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah kesenjangan fasilitas antara sekolah di perkotaan dan pedesaan. Banyak sekolah di daerah terpencil yang masih kesulitan mengakses internet atau tidak memiliki perangkat teknologi yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, guru dituntut untuk lebih kreatif mencari solusi alternatif, seperti menggunakan bahan ajar digital yang dapat diunduh terlebih dahulu atau menggabungkan metode konvensional dengan pendekatan teknologi sederhana. Hal ini menunjukkan bahwa peran guru tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai inovator yang mampu menyesuaikan strategi mengajar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan.
Selain masalah fasilitas, tantangan lainnya adalah sikap sebagian guru yang masih enggan berubah. Ada guru yang merasa cukup dengan cara mengajar tradisional dan menganggap teknologi hanya membuat proses pembelajaran menjadi rumit. Padahal, generasi saat ini—yang sering disebut “generasi digital native”—sangat akrab dengan teknologi. Jika guru tidak mengikuti perkembangan ini, akan terjadi kesenjangan antara gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa. Akibatnya, pembelajaran menjadi kurang efektif dan siswa kehilangan minat belajar. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memiliki growth mindset atau pola pikir berkembang, yaitu kesediaan untuk terus belajar dan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Di sisi lain, guru juga harus menjadi teladan dalam penggunaan teknologi secara positif. Guru perlu menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas, memperluas wawasan, dan membangun kreativitas. Misalnya, dengan mengajak siswa membuat proyek digital, seperti video edukatif, blog pembelajaran, atau presentasi multimedia. Dengan begitu, siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta konten yang bermanfaat bagi masyarakat. Guru yang mampu menanamkan semangat berkarya dengan teknologi akan membantu mencetak generasi muda yang kreatif, kritis, dan inovatif.
Peran guru juga sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah kemajuan digital yang serba cepat, pendidikan tidak boleh kehilangan sentuhan moral dan karakter. Guru harus memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat nilai-nilai positif seperti kerja sama, tanggung jawab, dan empati. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu untuk memperkaya proses pembelajaran, bukan menggantikan hubungan manusiawi antara guru dan siswa. Dalam hal ini, guru menjadi jembatan antara dunia digital dan dunia nyata agar siswa dapat tumbuh menjadi individu yang berilmu sekaligus berkarakter.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peran guru di Indonesia dalam menghadapi perkembangan teknologi sangatlah vital. Guru bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga pembimbing, pengarah, dan teladan bagi peserta didik dalam memanfaatkan teknologi dengan bijak. Agar dapat menjalankan peran tersebut dengan baik, guru perlu terus meningkatkan kompetensi digital, berpikir terbuka terhadap perubahan, dan menanamkan nilai-nilai moral dalam setiap proses pembelajaran. Jika hal ini dapat diwujudkan, maka teknologi tidak akan menjadi ancaman bagi dunia pendidikan, melainkan menjadi alat yang mempercepat terwujudnya tujuan pendidikan nasional—yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk manusia yang berkarakter unggul di era digital.
Sebagai ilustrasi,
Di sebuah kelas modern, Guru berdiri di depan layar interaktif. Ia bukan hanya membawa buku dan spidol, tapi juga laptop atau infokus yang terhubung ke internet. Di hadapannya, para siswa duduk dengan tablet masing-masing, belajar melalui platform pembelajaran daring.
Hari ini, Guru mengajarkan tentang perubahan iklim. Ia tidak hanya menjelaskan teori, tetapi juga menayangkan video, membuka data cuaca global secara real-time, dan mengajak siswa berdiskusi melalui forum digital.
Namun, peran guru tersebut tidak berhenti pada teknologi. Ia tetap menjadi pendidik yang menanamkan nilai-nilai, seperti tanggung jawab, kejujuran, dan etika digital. Ia mengingatkan siswanya agar bijak dalam menggunakan media sosial dan berhati-hati terhadap informasi palsu.
Guru juga menjadi fasilitator dan pembimbing, membantu siswa menemukan sumber belajar terbaik, menyesuaikan gaya belajar masing-masing, dan mendorong kreativitas lewat proyek digital. Di era serba cepat ini, guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu, tapi menjadi kompas moral dan intelektual yang membimbing siswa agar tidak tersesat di dunia maya.









